Makanan halal adalah makanan yang boleh dimakan menurut ketentuan syariat
Islam.
Bagi seorang muslim, makanan yang dimakan harus memenuhi dua syarat, yaitu:
·
Halal, artinya dibolehkan berdasarkan
ketentuan syariat Islam
·
Tayyib, artinya baik, mengandung nutrisi,
bergizi, dan menyehatkan.
Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Q.S. al Maidah/5 ayat 88:
"Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki
yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya
(Q.S. al-Maidah/5:88)"
Nah, sekarang menjadi lebih jelas, bukan? Bagi seorang muslim makanan dan
minuman itu sangat berarti dalam kehidupan.
Makanan dan minuman yang kita konsumsi tidak asal mengenyangkan saja, tetapi
harus halalan tayyiban.
Adapun halalnya makanan dan minuman meliputi tiga kriteria berikut ini:
·
Halal dari segi wujudnya/zatnya
makanan itu sendiri, yaitu tidak termasuk makanan yang diharamkan Allah Swt
·
Halal dari segi cara mendapatkannya
·
Halal dalam proses pengolahannya
Ada orang yang menyatakan bahwa untuk bisa mendapatkan makanan yang halal
itu sulit.
Namun banyak juga yang mampu menjaga diri agar makanan yang masuk ke dalam
tubuhnya dijaga akan kehalalalnya.
Adapun jenis-jenis makanan yang halal menurut wujudnya adalah sebagai berikut:
1. Makanan yang disebut halal oleh Allah dan Rasul-Nya.
Hal ini sesuai dengan hadis berikut:
"Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya adalah halal dan apa yang
diharamkan Allah di dalam Kitab-Nya adalah haram, dan apa yang didiamkan (tidak
diterangkan), maka barang itu termasuk yang dimaafkan." (H.R. Ibnu Majah
dan Tirmizi)
2. Makanan yang tidak kotor dan tidak menjijikan.
Hal ini sesuai firman Allah dalam Q.S. al Araf/7 ayat 157:
"....dan menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala
yang buruk bagi mereka...." (Q.S. al A'raf/7:157)
3. Makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan kesehatan tubuh,
tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan aqidah.
Friman Allah dalam Q.S. al Baqarah/2 ayat 168:
"Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat
di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu
musuh yang nyata bagimu." (Q.S. al Baqarah/2:168)
Dia adalah orang jujur dan amanah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun
tersebut. Suatu hari majikannya, sanga pemilik kebun, datang mengunjungi
kebunnya.
Majikannya ternyata sedang mengalami masalah yang rumit berkaitan dengan
putrinya.
Banyak pria yang mempersunting putrinya yang sudah beranjak dewasa dan tumbuh
menjadi seorang gadis yang cantik.
Masalahnya semua laki-laki yang ingin mempersunting putrinya adalah kerabat dan
teman dekatnya.
Ia harus memilih salah satu dari mereka, tetapi ia khawatir jika menyinggung
bagi kerabat yang tidak terpilih.
Sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia ingin mencoba mencicipi hasil
buah di kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.
"Hai Mubarok, kemarilah! Tolong ambilkan saya buah melon yang manis!"
perintahnya.
Dengan sigap Mubarok segera memetik buah melon yang diminta, kemudian diberikan
kepada majikannya.
Ketika buah tersebut dimakan sang majikan, ternyata rasanya tidak manis sama
sekali.
Majikan itu berkata, "Wahai Mubarok! Buah ini tidak ada manisnya sama
sekali. Berikan saya buah yang manis! pinta sang majikan lagi.
Untuk kedua kalinya, buah yang diberikan Mubarok belum terasa manis.
Sang majikan terheran-heran, sudah sekian lama ia mempekerjakan Mubarok, tetapi
mengapa si penjaga kebun ini tidak mampu membedakan antara buah yang masih muda
dan yang sudah masak? Ah, mungkin dia lupa, pikir sang majikan.
Dimintanya Mubarok untuk memetikkan kembali buah yang manis. Hasilnya sama
saja, buah ketiga masih terasa tawar.
Rasa penasaran timbul dari sang majikan. Dipanggillah Mubarok, "Bukankah
kau sudah lama bekerja di sini? Mengapa kamu tidak tahu buah mana yang sudah
manis?" tanya sang majikan.
Mubarok menjawab, "Maaf tuan, saya tidak tahu bagaimana rasa buah-buahan
yang tumbuh di kebun ini karena tidak pernah mencicipinya!"
"Aneh, bukankah amat mudah bagimu untuk memetik buah-buahan di sini,
mengapa tidak ada satu pun yang kau makan?" tanya majikannya.
"Pesan orang tua dan guru saya, tidak boleh makan sesuatu yang belum jelas
kehalalannya bagiku. Buah-buahan itu bukan milikku, jadi aku tidak berhak untuk
memakannya sebelum memperoleh izin dari pemiliknya," jelas Mubarok.
Sang majikan terkejut dengan penjelasan penjaga kebunnya tersebut.
Dia tidak lagi memandang Mubarok sebatas tukang kebun, melainkan sebagai
seseorang yang jujur, hatinya jernih, pikirannya bersih, dan tinggi
kedudukannya di mata Allah Swt.
Ia berpikir mungkin Mubarok bisa mencarikan jalan keluar atas permasalahan
rumit yang tengah dihadapinya.
Mulailah sang majikan bercerita tentang lamaran kerabat dan teman-teman
dekatnya kepada putrinya.
Ia mengakhiri ceritanya dengan bertanya kepada Mubarok, "Menurutmu,
siapakah yang pantas menjadi pendamping putriku?"
Mubarok menjawab, "Dulu orang-orang jahiliah mencarikan calon suami untuk
putri-putri mereka berdasarkan keturunan. Orang Yahudi menikahkan putrinya
berdasarkan harta, sementara orang Nasrani menikahkan putrinya berdasarkan
keelokan fisik semata. Namun, Rasulullah mengajarkan sebaik-baiknya umat adalah
yang menikahkan karena agama dan kepribadiannya,"
Sang majikan langsung tersadar akan kekhilafannya. Mubarok benar, mengapat
tidak terpikirkan untuk kembali pada al Qur'an dan Sunnah. Islamlah solusi atas
semua problematika umat manusia.
Ia pulang dan memberitakan seluruh kejadian tadi kepada istrinya.
"Menurutku Mubaroklah yang pantas menjadi pendamping putri kita"
usulnya kepada sang istri. Tanpa perdebatan panjang, sang putri langsung menyetujuinya.
Pernikahan bahagia dilangsungkan. Dari keduanya lahirlah seorang anak bernama
Abdullah bin Mubarok. Ia adalah seorang ulama, ahli hadis, dan mujahid.
Ya, pernikahan yang dirahmati Allah Swt dari dua insan yang taat beribadah,
insya Allah, akan diberi keturunan yang mulia.
0 komentar:
Posting Komentar
Jangan lupa memberi sedikit komentar demi perkembangan bloger kami