Rabu, 20 April 2011

Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib

Muhammad Ibn Ali Ibn Abi Thalib, beliau lebih dikenal dengan Muhammad Ibn al-Hanafiah, sedang terjadi percekcokan dengan saudaranya al-Hasan ibn Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kelebihan kepadamu atas diriku…Ibumu Fathimah binti Muhammad ibn Abdullah SAW, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani “Haniifah.” Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja’far ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku dalam segala hal.”

Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan…ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini?
Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.

Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah SAW.
Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk bersama Nabi SAW, maka ia berkata, “Wahai Rasulullah…apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.”
“Ya” jawab beliau.

Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia SAW bertemu dengan ar-Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi Allah)…dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).

Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja’far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya “Muhammad” dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin Rasulullah SAW. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah, untuk membedakannya dengan kedua saudaranya al-Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.

Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.

Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya…mewarisi kekuatan dan keberaniannya…menerima kefasihan dan balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa mimbar di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur lelap.

Ayahnya RA telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti.

Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah melemah keteguhannya.

Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?”

Ia menjawab, “Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku…sedangkan aku menempati kedudukan dua tangannya…sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya.”

Dalam perang “Shiffin” yang berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan RA. Adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya.

Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang “Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan keji dan besar.

Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku, “Wahai kaum Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)…wahai kaum Muslimin…

Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?*…

Wahai kaum Muslimin…takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma’syarol muslimin.”

Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
Kemudian Ali RA mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )

Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan. Maka, Muhammad ibn al-Hanafiyyah membaiatnya untuk selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.

Muawiyah RA merasakan ketulusan baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk mengunjunginya.

Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali…dan lebih dari satu sebab.

Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka miliki…sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa yang terjadi di antara mereka?”
Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.

Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata dalam suratnya, “Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?.”

Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr ibn al-‘Aash, “Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya bahkan lebih darinya…ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Adapun orang yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”

‘Amr berkata, “Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”

“Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari kita,” kata Muawiyyah.

“Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?” tanya ‘Amr.

Muawiyah berkata, “Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam padanya.”

Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d dan Muhammad ibn al-Hanafiyyah.

Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa’d berdiri dan melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya. Ia pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.

Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi ini…apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku…Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk…”
Orang Romawi tadi memilih duduk.

Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri…dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk…

Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan lengannya dari pundaknya…dan mendudukkannya di tanah.

Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.
Hari-hari berputar lagi…

Muawiyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam telah berpindah ke rahmatullah…Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai khalifah muslimin dan penduduk Syam membaiatnya.

Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membaiat Abdullah ibn az-Zubair***.

Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum membaiatnya untuk membaiatnya…dan mendakwakan kepada manusia bahwa ia yang paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya. Barisan kaum muslimin pun terpecah lagi…

Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk membaiatnya sebagaimana penduduk Hijaz telah membaiatnya.

Hanya saja Ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa baiat akan menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia baiat. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya dan memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para penyelisihnya hanyalah orang-orang muslim yang telah berijtihad, lalu membaiat orang yang tidak ia bai’at.

Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari “Shiffin.”

Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang menggelegar dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh kesedihan, dan suara itu memanggil dari belakangnya, “Wahai kaum Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah…wahai kaum Muslimin…

Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?… Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”..
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua.

Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, “Sesungguhnya engkau mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa dalam perkara ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula permintaan…hanyalah aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila kalimat (suara) mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik, maka aku akan membaiat orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun sekarang, aku tidak membaiatmu…juga tidak membaiatnya.”

Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut kepadanya dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang lain ia berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya.

Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama hingga banyak orang yang bergabung dengannya ketika mereka mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang dari orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah. Dan mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi apinya yang menyala.

Setiap kalii pengikut Ibn al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya, bertambahlah kemarahan Ibn az-Zubair kepadanya dan ia terus mendesaknya untuk membaiatnya.

Ketika Ibn az-Zubair telah putus asa, ia memerintahkannya dan orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim dan yang lainnya untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit) mereka di Mekkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.

Kemudian ia berkata kepada mereka, “Demi Allah, sungguh-sungguh kalian harus membaiatku atau benar-benar aku akan membakar kalian dengan api…

Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi rumah-rumah dengannya hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu kayu bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.

Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut Ibn al-Hanafiyyah berdiri kepadanya dan berkata, “Biarkan kami membunuh Ibn az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”

Ia berkata, “Apakah kita akan menyalakan api fitnah dengan tangan-tangan kita yang karenanya kita telah menyepi (memisahkan diri)…dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah SAW dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi Allah kita tidak akan melakukan sedikitpun apa yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya murka.”

Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn az-Zubair sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan. Ia melihat kesempatan emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.

Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya, yang seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya tentunya ‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut itu.

Dan di antara isi suratnya adalah, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Ibn az-Zubair telah mempersempit gerakmu dan orang-orang yang bersamamu…ia memutus tali persaudaraanmu…dan merendahkan hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan…singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya engkau akan menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para tetangga yang mencintaimu…dan engkau akan mendapatkan kami orang-orang yang memahami hakmu…menghormati keutamaanmu…dan menyambung tali persaudaraanmu Insya Allah…

Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang bersamanya berjalan menuju negeri Syam…sesampainya di “Ublah”, mereka menetap di sana.

Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling mulia dan menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.

Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan mengagungkannya, karena apa yang mereka lihat dari kedalaman (ketekunan) ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.

Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang munkar. Ia mendirikan syi’ar-syi’ar di antara mereka dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.

Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian bermusyawarah dengan orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu. Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui…entah ia membaiatmu…atau ia kembali ke tempatnya semula.”

Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi antara diriku dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah seseorang yang memiliki tempat dan nama di antara kaum Muslimin. Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di negeriku kecuali bila engkau membaiatku. Bila engkau membaiatku, aku akan memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari “al-Qalzom” kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya. Bersama itu engkau berhak atas satu juta dirham ditambah dengan jumlah yang kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu, kerabatmu, budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau menolaknya maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak memiliki kekuasaan atasnya.”

Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan, “Dari Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan. Assalamu ‘alaika…Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih) kepadamu. Amma ba’du…Barangkali engkau menjadi ketakutan terhadapku. Dan aku mengira engkau adalah orang yang paham terhadap hakikat sikapku dalam perkara ini. Aku telah singgah di Mekkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan aku untuk membaiatnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat terhadap pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat kepadaku, memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah di sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami Insya Allah akan meninggalkanmu.”

Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan kelurganya meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali ia singgah di suatu tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi darinya.
Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…

Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya dari kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan yang lainnya dari kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah menitipkan di hati Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-rahasia ilmu, qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan syariat. Beliau telah mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang orang lain tidak mengetahuinya.”

Orang yang ‘alim, beramal dan mahir ini memahami betul apa yang diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan, serta bahaya-bahaya yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka…ia memuji Allah AWJ dan menyanjungnya dan bershalawat atas Nabi-Nya Muhammad SAW…kemudian berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah SAW mengkhususkan kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada siapapun selain kami. Dan kami –demi Allah- tidaklah mewarisi dari Rasulullah melainkan apa yang ada di antara dua lembaran ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang kami baca selain kitab Allah, sungguh ia telah berdusta.”

Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam kepadanya, mereka berkata, “Assalamu’alaika wahai Mahdi.”

Ia menjawab, “Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat petunjuk) kepada kebaikan…dan kalian adalah para Mahdi kepada kebaikan Insya Allah…akan tetapi apabila salah seorang dari kalian mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan namaku. Hendaklah ia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad.”

Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah tentang tempat yang akan ia tinggali beserta orang-orang yang bersamanya…Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofi menumpas Abdullah ibn az-Zubair…dan agar manusia seluruhnya membaiat Abdul Malik ibn Marwan.

Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat kepada Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul Malik ibn Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du…Sesungguhnya setelah aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia membaiatmu. Maka, aku seperti orang dari mereka. Aku membaiatmu untuk walimu di Hijaz. Aku mengirimkan baiatku ini secara tertulis. Wassalamu’alaika.”

Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada para sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya ia ingin memecah tongkat ketaatan (baca: keluar dari ketaatan) dan membikin perpecahan dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya engkau tidak memiliki jalan atasnya…Maka tulislah kepadanya dengan perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan Rasul-Nya agar ia tidak diusir dan diusik, ia dan para sahabatnya.”

Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya. Hanya saja Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama setelah itu. Allah telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla dan diridlai.

Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan ruhnya di surga…ia termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak pula ketinggian di antara manusia.

Bismillah,

Manusia seringkali berpikir dan bertindak ngawur. Terlebih jika mereka tidak menggunakan agama sebagai petunjuk dan lebih mengedepakan dan menuhankan hawa nafsunya.

Bank ASI merupakan salah satu hal yg mempunyai potensi untuk disalahgunakan oleh manusia.

Sebelumnya, mari kita lihat dulu apa yg dimaksud dengan bank ASI (Air Susu Ibu).

Bank ASI adalah tempat untuk menyimpan air susu ibu. Pendirian bank ini sebenarnya ditujukan untuk menyimpan air susu ibu yg diproduksi berlebih, sehingga apabila satu waktu nanti sang ibu mengalami kesulitan memberi susu untuk bayinya, maka dia bisa mengambil air susunya di bank ASI lalu menyusukannya ke anaknya.

Lalu, apakah boleh ASI dari ibu A diberikan untuk anak ibu B? Hal ini dikarenakan ibu B mengalami kesulitan untuk memberi ASI, sementara pemberian susu formula masih dirasa terlalu mahal.

Untuk kasus seperti ini, harap diingat dan dibaca lagi artikel saya, mengenai saudara sepersusuan.

Di sana saya sudah tuliskan cukup rinci, bahwa jika hendak memberikan ASI kepada bayi lain, terutama jika untuk jangka waktu cukup lama (minimal 3x pemberian ASI dan cukup mengenyangkan serta di bawah 2 tahun) maka mesti diperhatikan garis keturunan. Hal ini dikarenakan jika anak ibu B diberi asi ibu A (sedikitnya) 3x dan mengenyangkan, maka anak ibu A dan anak ibu B menjadi saudara sepersusuan. Itu artinya mereka MAHRAM DAN HARAM DINIKAHKAN!

Cukup jelas bukan aturan mainnya?

Sayangnya, niat baik pendirian bank ASI ini disalahgunakan oleh beberapa orang yg keblinger. Ada orang2 yg membuat ES KRIM TERBUAT DARI AIR SUSU IBU! Sekilas sah2 saja pembuatan es krim dari ASI. Tapi jika es krim ini dikonsumsi oleh anak kecil (di bawah 2 tahun) dan dia mengonsumsi (setidaknya) 3x berturut-turut hingga kenyang, maka (seperti saya tulis di atas) dia akan menjadi saudara sepersusuan dg anak dari ibu yg ASI-nya dibuat es krim.

Masalahnya, saya yakin, para produsen ini tidak akan mempedulikan masalah ini. Efeknya? Terjadi kekacauan garis keturunan! Bisa dibayangkan di masa mendatang, jika es krim ini diperdagangkan secara bebas, terutama di Indonesia, akan banyak terjadi pernikahan sesama saudara sepersusuan, yg notabene dilarang agama!

Saya yakin, jika hal ini terjadi, kekacauan (generasi) yg lebih dahsyat akan menimpa Indonesia. Naudzubillah min dzalik!

Kesimpulan:
- bank ASI boleh selama aturannya diperhatikan
- jika ada bayi lain hendak menyusu dg susu dari bank ASI, maka mesti diperhatikan nasab/garis keturunannya

Berbagi artikel ini4849
Belum ada komentar



March 26, 2011
Hukum Membuat Baju Yang Ada Ayat Al Qur’an
Masuk Kategori: Tarbiyah, Aqidah, Fiqh, Seri Kesalahan2, Lain-lain

Bismillah,

Artikel ini berawal dari sebuah sms yg masuk ke inbox saya. Isi sms-nya lebih kurang menanyakan, bagaimana hukumnya membuat baju yg ada tulisan/ayat Al Qur’an?

Sebuah pertanyaan yg menarik, terlebih sang penanya, mas Febri, adalah seorang pengusaha pakaian yg bernuansa Islam. Nampak sekali beliau sangat berhati-hati dalam menjalankan usahanya.

Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya, tidak ada hukum ‘resmi’ yg dikeluarkan oleh para ulama mengenai hal ini. Namun jika merujuk ke beberapa contoh yg saya ketahui, boleh-boleh saja membuat baju yg ada ayat Al Qur’an. Hanya saja, meski hal ini boleh tapi ada beberapa hal yg mesti diperhatikan:

1. Pastikan kualitas tulisannya cukup baik.
Hal ini perlu diperhatikan dg baik, karena jika terjadi ‘kerusakan’ pada ayat yg ditulis, terlebih dalam tulisan Arab, maka bisa terjadi perubahan arti. Katakanlah ada ayat yg mengandung huruf tsa’. Seperti kita ketahui, ada 3 titik pada huruf tsa’. Jika ada 1 titik yg terhapus (entah karena cucian ataupun sebab lain) otomatis huruf tsa’ tersebut akan berubah menjadi huruf ta’. Dan ini jelas akan menimbulkan salah ayat dan makna!

2. Berhati-hati saat mencuci.
Poin ini ada kaitannya dengan poin 1 di atas. Kecerobohan dalam mencuci bisa ‘mengganti’ huruf (walau tidak sengaja).

3. Penggunaan baju itu sendiri.
Jika baju sering dipakai, terlebih ke tempat2 yg berdebu/kotor, otomatis akan ‘mengotori’ ayat Al Qur’an yg dicetak di baju tersebut. Secara tidak langsung, menurut saya, ini berarti mengotori ayat2 Al Qur’an (secara fisik). Bagaimana jika ada najis yg menempel? Kini, mari kita tanya ke diri kita, relakah kita jika ayat2 Al Qur’an tersebut kotor?

4. Baju usang.
Katakanlah baju tersebut dipakai dan dirawat dg baik. Jika dia usang, apa yg akan kita lakukan? Menjadikannya lap pel? Atau menjadi lap utk cuci kendaraan? Masya ALLOH. Bisa jadi hal tersebut terjadi, terutama jika pembantu/orang tersebut tidak mengerti.

Saya sebenarnya sangat mendukung jika ada baju yg bertuliskan ayat Al Qur’an. Dengan demikian, kita melakukan dakwah (secara ayat) kepada orang lain. Namun, mengingat poin2 di atas, terutama poin 3, saya merasa tidak sreg.

Hal yg sama berlaku utk hadits.

Jika ayat tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia (terjemahan ayat), menurut saya masih bisa ditolerir, insya ALLOH, selama masih merujuk kepada poin2 di atas.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Berbagi artikel ini4849
Sejumlah (2)komentar di artikel ini



March 17, 2011
Jangan Menyingkat Sembarangan
Masuk Kategori: HOT NEWS, Fiqh, Hikmah, Seri Kesalahan2, Lain-lain

Bismillah,

Sudah sekitar 1-2 tahun belakangan ini, saya melihat ada satu trend di kalangan pengguna internet, entah itu twitter, plurk, facebook, ataupun aplikasi media sosial lainnya, yg menurut saya menjurus ke hal yg kurang baik. Menjurus ke kurang baik, karena dampaknya yg terkesan menyepelekan agama (Islam).

Trend tersebut adalah menyingkat beberapa istilah:
- masya ALLOH menjadi masaolo, mataolo, matolo, masolo atau sejenisnya
- astaghfirullah menjadi astapilo
- astaghfirullah al adzim menjadi astajim
- assalamu’alaykum menjadi ass
- singkatan2 lainnya

Menurut saya, jika memang tidak niat utk menuliskan secara benar, lebih baik tidak usah menyingkat istilah2 tersebut yg pada akhirnya malah berkesan guyonan dan olok2 semata. Apalagi penyingkatan salam, dari assalamu’alaykum menjadi ass, menurut hemat saya, sangatlah tidak beradab! Sebuah doa (yg begitu indah) tiba2 dirusak menjadi sebuah kata yg menunjukkan bagian tubuh yg kurang sopan. Bayangkan saja, “Salam sejahtera” berubah menjadi “pantat”, apa pantas?

Menyingkat suatu istilah hendaknya diupayakan ’sedekat’ mungkin makna ataupun tulisannya. Penulisan aslkm atau salaam itu lebih baik.

Saya pernah baca, masih ada perdebatan utk penulisan SAW, SWT, RA. Ada ulama yg MEWAJIBKAN menuliskan secara utuh. Dengan kata lain ALLOH SWT mesti ditulis sebagai ALLOH SUBHANALLOHUWATA’ALA, ataupun Rasululloh SAW menjadi Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saya sendiri berasumsi bahwa SAW, SWT, dan RA sebenarnya sudah dimengerti maknanya. Seperti halnya jika kita menulis Bdg, Jkt, Sby, maka kita akan langsung mengerti bahwa yg dimaksud dari tulisan itu adalah Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

Hanya saja, terus terang, saya belum menemukan rujukan yg shahih mengenai dibolehkannya penyingkatan tulisan SAW, SWT, dan RA. Sementara, jika saya melihat beberapa hadits (yg ditulis dalam bahasa Arab) hampir semuanya menuliskan SAW secara lengkap.

Kesimpulannya:
- jangan menyingkat sembarangan!
- untuk SAW, SWT, RA, saya akan upayakan untuk menulis secara lengkap,kecuali jika terlupa insya ALLOH akan ada nilai tambah jika kita tulis secara lengkap
- penulisan Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan ucapan shalawat kepada Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yg insya ALLOH, akan membantu kita mendapat syafa’at dari beliau kelak

Berbagi artikel ini4849
Sejumlah (3)komentar di artikel ini



January 25, 2011
Penyusupan Misi Kaum Kristen - Idul Adha
Masuk Kategori: Aqidah, HOT NEWS, Fiqh, Seri Kesalahan2, Dari Inboxku, Lain-lain

Bismillah,

Sebuah informasi yg cukup mengejutkan (meski saya sendiri sebenarnya tidak terlalu kaget) saya terima beberapa hari lalu, usai saya berbincang-bincang (via ym) dengan salah seorang saudara seiman dan pembaca setia blog ini. Informasi tersebut adalah kian gencarnya kristenisasi yg dilakukan kepada kaum muslim. Dan tidak tanggung-tanggung, para zending itu memutar balikkan fakta dan ayat Al Qur’an untuk kepentingan mereka.

Untuk lebih lengkapnya, saya sertakan infonya berikut ini:

Dalam artikel kristenisasi berjudul “Rahasia Berkah Idul Adha,” para misionaris yang menamakan diri komunitas “Isa & Islam” mencatut ayat-ayat Al-Qur’an tentang qurban untuk menyusupkan doktrin Kristen kepada umat Islam. Bahkan ayat populer tentang qurban yang selalu dibaca oleh para mubaligh pada hari raya Idul Adha, diperalat untuk menjajakan doktrin Kristen. Berikut kutipannya:

“Mengenai peringatan hari raya Idul Adha, Al-Quran mencatat sebuah ayat yang menarik. Ayat ini tentang pengurbanan Nabi Ibrahim AS. Ia mengurbankan seekor domba jantan sebagai pengganti anak lelaki yang disayanginya: “Kami tebusi anaknya itu sembelihan yang besar (seekor kambing/domba).” (QS 37:107).

“Sembelihan besar” ini adalah sebuah simbol yang melambangkan keagungan. “Sembelihan besar” menjadi alat penebusan Allah bagi anak lelaki Ibrahim…

Kurban seperti apakah yang layak menggantikan kita di hadapan Allah? Kurban yang layak menggantikan kita di hadapan Allah haruslah lebih tinggi dari seekor hewan. Karena Allah hanya menerima ketakwaan yang hanya dimiliki oleh manusia, maka kurban yang dapat diterima Allah hanyalah kurban seorang manusia…

Kurban yang dapat diterima Allah adalah kurban seorang manusia yang suci dan tanpa dosa. Isa Al-Masih satu-satunya yang dapat menjadi kurban ‘kurban besar’. Karena Dia suci, datang ke dunia dengan cara ajaib, dikirim Allah dan kematian-Nya memberikan hidup kepada manusia sebagai tebusannya.

Jelas, Isa Al-Masih mengorbankan diri-Nya bagi seluruh manusia termasuk Saudara. Hari ini, dengan menerima Isa Al-Masih sebagai juruselamat, Saudara dapat menikmati hidup yang kekal.”

Membaca pernyataan di atas membuat saya tersenyum sendiri. Pemaksaan penafsiran yg dilakukan oleh beberapa orang Kristen terhadap hari raya Idul Adha justru memperlihatkan bahwa para penginjil menggunakan berbagai cara demi mengubah keyakinan kaum muslim.

Saya sendiri yakin kaum muslim yg pernah belajar agama tidak akan mudah menerima informasi di atas, karena mereka sudah diajarkan beberapa hal:
1. Nabi Isa as (Yesus menurut orang Kristen) tidaklah disalib, jadi bagi kaum muslim tidak ada yg namanya pengorbanan
2. Nabi Isa as (Yesus menurut orang Kristen) juga BUKAN TUHAN
3. Tidak ada kaitan ibadah kurban dengan peristiwa penyaliban

Semoga kita lebih hati2 dengan hal2 seperti ini. Marilah kita ajarkan dan tanamkan agama Islam yg benar kepada lingkungan kita.

Berbagi artikel ini4849
Sejumlah (3)komentar di artikel ini



January 19, 2011
Islam Dan Zodiak
Masuk Kategori: Aqidah, HOT NEWS, Fiqh, Ensiklopedia Islam, Seri Kesalahan2, Lain-lain

Bismillah,

Belakangan ini saya banyak membaca berita terkait adanya perubahan dalam penentuan zodiak (astrologi). Selain berita, saya sempat juga membaca komentar2 lucu (menyedihkan?) terkait hal tersebut, terutama dari orang2 yg ‘kesal’ karena zodiaknya berubah.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin menyegarkan ulang ingatan kita mengenai zodiak.

Zodiak adalah ilmu ‘perbintangan’ (astrologi) yg mempunyai arti siklus hewan (silakan cek ke Wiki). Zodiak disusun berdasar ilmu perbintangan (astronomi) dengan beberapa ketentuan, terutama peredaran garis edar matahari. (Hampir) Bisa dikatakan penggolongan zodiak nyaris serupa dengan kalender dengan beberapa sifat yg berbeda, terutama tanggal awal dan akhir sebuah zodiak.

Di kalangan generasi muda, zodiak merupakan sebuah hiburan, meski tidak sedikit yg menganggap serius bahkan terkadang malah sangat di-fanatik-kan. Mereka begitu percaya dg RAMALAN yg ‘dikatakan’ oleh zodiak mereka di hari itu. Tidak heran jika zodiak menjadi sebuah artikel yg ‘wajib’ ada di majalah2 remaja.

Sayangnya, banyak generasi muda (bahkan orang tua juga) yg tidak tahu bahwa mempercayai zodiak adalah sebuah dosa. Hal ini dikarenakan percaya dg ucapan/tulisan (apapun itu) dari zodiak artinya kita percaya nasib/masa depan kita ada di tangan zodiak. Hal ini sama halnya dengan percaya terhadap ramalan/ucapan dukun/peramal/paranormal. Padahal, sebagai muslim, kita hanya boleh percaya bahwa ALLOH SWT saja yg berhak (dan tahu) masa depan serta nasib kita.

Bisa dikatakan, percaya zodiak termasuk ke dosa syirik, menyekutukan ALLOH SWT. Padahal ALLOH SWT jelas2 melarang dan menggolongkan syirik sebagai salah satu dosa besar kepada-Nya. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman(31):13)

Rasululloh SAW juga bersabda sebagai berikut, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata : Aku bertanya kepada Rasululloh SAW,”Dosa apa yang paling besar?’ beliau saw menjawab,’Engkau menjadikan tandingan terhadap ALLOH SWT padahal Dial ah yang telah menciptakanmu.’….” (Muttafaq Alaihi)

Para musuh Islam menggunakan zodiak sebagai sarana utk menghancurkan kaum muslim, terutama dg strategi Ghazwul Fikri-nya. Dengan cara yg sangat halus dan tidak kentara, perlahan-lahan para generasi muda Islam digiring utk mempercayai dan mempertaruhkan nasib dan masa depannya ke hal selain ALLOH SWT.

Saya pernah menuliskan beberapa hal yg menyebabkan kita jatuh ke jurang kemusyrikan.

Beberapa orang beralasan bahwa tulisan/ucapan dari zodiak ada benarnya dan mereka sendiri cenderung mengambil hal2 positifnya. Saya katakan bahwa jika memang zodiak itu benar, itu adalah sebuah kebetulan. Saya yakin banyak dari ramalan zodiak itu yg tidak sesuai dan bahkan ngawur. Sementara jika tujuannya mengambil hal2 positif, masih banyak cara lain yg lebih masuk akal. Misalnya diskusi/ngobrol dengan orang2 yg sukses/berhasil di bidangnya. Bukan dengan cara yg tdk masuk akal, percaya dg apa2 yg diucapkan/dituliskan sesuatu yg tidak jelas.

Intinya: TIDAK PERLU DAN JANGAN PERCAYA DENGAN ZODIAK.

Semoga kita semua terlindungi dari hal2 yg berbau syirik. Aamiin.

Berbagi artikel ini4849
Telah ada (1) komentar



December 31, 2010
Ketika Sunnah Rasululloh SAW Disingkirkan
Masuk Kategori: Aqidah, HOT NEWS, Kajian Qur'an, Fiqh, Ensiklopedia Islam, Seri Kesalahan2, Lain-lain

Bismillah,

Saya sempat menulis beberapa artikel mengenai sunnah, termasuk sunnah Rasul tiap malam Jum’at. Sunnah, seperti yg disepakati mayoritas ulama terutama kaum Sunni (Sunnah Wal Jama’ah), menempati peringkat kedua dalam sumber hukum di Islam setelah Al Qur’an.

Sunnah, dalam banyak kasus ibadah, memberikan penjelasan yg lebih rinci dari yg telah disebut di Al Qur’an. Dengan kata lain, Sunnah adalah Juklak (petunjuk pelaksanaan) dari petunjuk teknis yg ditulis dalam Al Qur’an.

Kita tahu gerakan sholat, waktu sholat, lalu cara berqurban, berhaji, semuanya dari sunnah. Ini menunjukkan bahwa kedudukan sunnah sangatlah vital, karena tanpa mengikuti sunnah, maka dipastikan kaum muslim akan mempunyai tata cara ibadah yg berbeda-beda, bisa disesuaikan dengan keinginannya. Tidak heran kita sempat temui ada kasus sholat dua bahasa, lalu ibadah haji cukup pergi ke sebuah daerah di Sulawesi Selatan karena dianggap mempunyai nilai yg sama, dan berbagai kasus lainnya.

Sayangnya, setan mempunyai sifat yg gigih untuk menyesatkan manusia. Salah satunya adalah dengan menghilangkan/menyingkirkan serta tidak mengakui sunnah yg dibawa Rasululloh SAW. Bahkan, lebih parahnya lagi, mereka cenderung mengambil Al Qur’an saja sebagai patokan dan sumber hukum.

Hal ini yg saya temui di sebuah situs, yakni http://allah-semata.org/. Saya dapatkan alamatnya dari salah seorang teman saya, mas Ichsan. Dari beberapa artikelnya, saya dengan cepat bisa menemukan bahwa situs ini adalah pendukung (jika bukan penyebar) aliran ingkar sunnah.

Mari kita bedah beberapa di antaranya:

- Mempermasalahkan pengucapan Aamiin
Pemilik situs ini menganggap ucapan aamiin tidaklah penting karena tidak disebutkan/dituliskan di Al Qur’an, terutama di akhir surat Al Fatihah. Padahal, aamiin tidak hanya diucapkan usai Al Fatihah, namun juga pada saat berdoa (berjama’ah). Dan seperti saya tulis di atas, mereka mengabaikan dan tidak menganggap penting hadits yg mendukung ucapan aamiin ini. Malah mengaitkan dengan paganisme (pemujaan berhala).

- Sholat Enam Waktu
Inipun adalah hal yg menggelikan. Mereka menafsirkan bahwa sholat itu 6 (ENAM) kali dalam sehari, bukan 5 (LIMA) kali seperti yg dicontohkan Rasululloh SAW. Cara mereka menafsirkan juga membuat saya bertanya-tanya, karena dilakukan dg serampangan. Mereka menolak mentah-mentah sholat jama’. Lebih lucunya lagi, mereka beranggapan sholat BOLEH dimulai bukan dg ALLOHU AKBAR (takbir) tapi juga boleh dengan Ar Rahman atau nama ALLOH (Asmaul Husna) sebagaimana saya kutip sebagai berikut: “Menyeru dengan nama Allah (al asmaaul husna) Allahu akbar atau Ar rahman atau lainnya (20:8).”

- Wudhu
Bab wudhu ada di bab sholat, seperti yg ditulis di atas. Dan mereka lagi2 menggunakan tafsiran sesuai hawa nafsu mereka sendiri.

- Sihir
Mereka juga menganggap sihir adalah hal yg tidak nyata dan merupakan kebohongan semata. Sekilas tulisannya memang ‘baik’, tapi jika kita perhatikan di bagian akhir, situs ini ‘menyerang’ dan (salah) menafsirkan hadits yg berujung pada Rasululloh SAW telah berbuat kesalahan. Padahal sudah jelas ada tuntunan Islam mengenai sihir.

Masih banyak lagi kebohongan2 dan dusta2 yg mereka lontarkan. Intinya, mereka TIDAK MENGAKUI SAMA SEKALI HADITS/SUNNAH RASULULLOH SAW. Bahkan mereka berani mendustakan dan mengingkari hal2 yg terkait dg Rasululloh SAW, seperti masalah shalawat dan doa bagi Nabi Muhammad SAW usai adzan.

Dan hal ini akan terlihat jelas jika kita membaca semua ‘tuntunan’ ibadah yg mereka jabarkan. SAMA SEKALI TIDAK ADA HADITS/SUNNAH yg dicantumkan sebagai referensi ibadah mereka. Pokoknya cuma Al Qur’an, titik! Padahal, orang yg menempatkan sunnah dan hadits saja masih ada kemungkinan penafsiran yg berbeda (padahal sudah dicontohkan oleh Rasululloh SAW), apalagi orang2 yg hanya mengandalkan Al Qur’an saja.

Contoh paling mudahnya, orang2 ingkar sunnah ini seperti orang2 yg hanya percaya UUD 1945 sebagai dasar hukum. Masalah pelaksanaan dari pasal2 UUD 1945, mereka tafsirkan sendiri dengan melabrak berbagai hal yg mereka anggap tidak sesuai. Tidak ada itu namanya UU, Perpu, PP, dst dst, karena hanya UUD 1945 yg paling benar.

Akhir kata, saya berharap agar saudara2 lebih berhati-hati dalam membaca dan meyakini sebuah tulisan, termasuk tulisan saya di blog ini.

Banyak cara setan untuk menjerumuskan dan menyesatkan manusia. Tentu saja setan tidak langsung menyesatkan, tapi mereka lakukan melalui kaki tangan mereka serta prosesnya seringkali berlangsung dg sangat halus dan tidak kentara.

Semoga kita termasuk orang2 yg dijaga ALLOH SWT dari petunjuk2 sesat yg dilakukan setan dan para pengikutnya. Aamiin.