Selasa, 20 Oktober 2020

Kisah Uwais al Qarni, Gendong Ibu dari Yaman ke Mekah untuk Pergi Haji



Di era digital saat ini banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi terkenal, terutama kaum milenials atau kids zaman now. Banyak cara ditempuh untuk menjadi selebgram, artis Tik Tok hingga Youtubers. Tak peduli cara halal atau haram.

Mereka berpikir bahwa orang terkenal itu menguntungkan. Kalau di instagram, mereka bisa mendapatkan uang dari endorsement, kalau dari Youtube mereka bisa mendapatkan uang dari iklan atau viewers.

Mereka pun merasa dengan menjadi terkenal mereka dapat membawa diri, menjadi pusat perhatian,  hingga bisa memiliki banyak fans yang katanya bisa menjadi motivasi untuk berkarya. Pokoknya dengan terkenal hidup terasa lebih mudah. Namun pada kenyataannya tidak semua orang terkenal itu bahagia hidupnya  bahkan tidak sedikit yang malah melakukan tindakan bunuh diri.

Lalu, salahkah jika kita ingin menjadi terkenal?

Sejarah mencatat ada seorang yang shalih yang hidup pada zaman Nabi Muhammad  Saw dengan nama yang tidak terkenal di bumi tapi terkenal di langit. Mereka sedikit diketahui kisahnya namun ia memiliki kemuliaan yang teramat tinggi. Dialah Uwais Al-Qarni seorang yatim yang hanya tinggal bersama ibunya yang sudah renta. 

Uwais Al Qarni disebutkan dalam Hadits Riwayat Ahmad nomor 15377:

“Telah menceritakan kepada kami Abu Nua’im berkata; telah menceritakan kepada kami Syarik dari Yazid bin Abu Ziyad dari Abdurrahman bin Abu Laila berkata; ada seorang laki-laki dari penduduk Syam berseru pada Perang Shiffin, Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais Al Qarni? Mereka berkata “benar”. (Abdurrahman bin Abu Laila RA) berkata bahwa saya mendengar Rasulullah Saw, di antara para tabiin yang terbaik dialah Uwais Al Qarni.

Redaksional dalam hadits itu menyebutkan bahwa Uwais Al Qarni adalah seorang “tabi'in” bukan seorang “sahabat”. Hal ini dikarenakan memang Uwais Al Qarni belum pernah bertemu dengan Rasulullah Saw, meskipun sebenarnya Uwais Al Qarni hidup di masa kerasulan Rasulullah Saw.

Suatu hari Uwais sangat ingin berjumpa dengan kekasih Allah, Rasulullah Saw. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi Saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad Saw dan memandang wajah beliau dari dekat ?

Ia rindu mendengar suara Nabi Saw,  kerinduan karena iman. Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi Saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Ia pun datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon izin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah Saw di Madinah.

Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Setelah mendapatkan izin dari ibunya untuk menemui Rasulullah di Madinah, maka Uwais pun segera berangkat. Ia pun berhasil sampai ke depan rumah Rasulullah Saw. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran.

Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Aisyah ra, istri Nabi SAW. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi SAW, tetapi Nabi SAW tidak dapat ia jumpai.

Bergolak perasaannya ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Maka, Uwais Al-Qarni pun terpaksa pamit kepada Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan yang amat mengharu biru.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais adalah anak yang taat kepada ibunya, ia adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Aisyah ra dan para sahabat tertegun.

Menurut keterangan Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni sang penghuni langit kepada sahabatnya,

“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khathab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu berlalu, Uwais Al Qarni wafat dengan berita wafatnya yang menggemparkan Kota Yaman. Hal itu karena walaupun ia tak terkenal di bumi namun saat hari kematiannya, begitu banyak orang yang datang untuk mengurus jenazahnya.

Suatu riwayat mengatakan bahwa mereka ialah para malaikat yang Allah utus untuk memuliakan Uwais Al-Qarni di hari kematiannya. Walau pada akhirnya, Uwais Al Qarni tidak pernah bertemu Rasulullah Saw di dunia namun Insya Allah ia bisa bertemu Rasulullah di surga kelak.

Dari kisah Uwais kita dapat belajar, bahwa tidak buruk bahkan menjadi tidak penting  jika kita tidak terkenal diantara para penduduk bumi. Namun kiranya kita perlu khawatir bila nama kita pun tidak bisa dikenal langit.

Karena sesungguhnya kemuliaan yang hakiki ialah saat tidak ada hijab antara seorang hamba dengan Rabbnya. Siapakah kiranya yang tidak ingin Allah Swt umumkan nama kita di hadapan para penghuni langit hingga tercurah ruah karunia dan kemuliaan Allah untuk kita di negeri kekal Akhirat kelak?

Kisah lain dari Uwais al Qarni adalah senantiasa memenuhi keinginan ibunya. Sang ibu yang sudah tua sangat ingin sekali pergi haji. Padahal dengan kondisi ketika itu yang tak ada uang, Uwais merasa berat untuk memenuhi keinginan sang Ibu.

Dari Yaman, perjalanan ke Makkah sangatlah jauh. Melewati padang tandus yang panas. Orang-orang yang pergi ke Makkah biasanya menggunakan unta untuk membawa banyak perbekalan.

Uwais terus berpikir untuk mencari jalan keluar agar ibunya bisa berangkat ke Tanah Suci. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu dan Uwais membuat kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Banyak orang yang menganggap aneh tindakan Uwais tersebut.

 Setelah 8 bulan berat Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram. Saat tiba musim haji, Uwais merasa otot-ototnya sudah kuat dan siap mengangkat beban berat. Dia pun menggendong sang Ibu dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Di tanah suci, Uwais al Qarni dengan tegap menggendong ibunya wukuf di Arafah dan Thowaaf di Kakbah. Di depan Kakbah air mata sang Ibu tumpah. Uwais pun berdoa, "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu." 


 

Sabtu, 19 September 2020

Khadijah Istri Terkasih Rasulullah



Khadijah Memang Wanita Istimewa, dua pertiga (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah binti khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Khadijah

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, ?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan,” jawab Khadijah.
“Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

“Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijah ku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib. jawab, menantu Rasullulah…

Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, ya ILahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam, Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku, Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku, Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

Senin, 14 September 2020

Menuai Keberkahan Dengan rasa Hormat dan Taat Kepada Orang Tua dan Guru



Sebelum lahir ke dunia, kita berada di perut ibu kurang lebih sembilan bulan lamanya. Saat seorang ibu sedang hamil, badannya lemah bertambah lemah dan terasa makin susah. Terlebih saat melahirkan, sungguh nyawa menjadi taruhannya. Setelah anaknya lahir, tugas seorang ibu selanjutnya adalah merawat dan membesarkan anak – anaknya. Ketika anaknya lapar, ibu segera menyuapi dengan penuh kelembutan. Saat anaknya sakit, seorang ibu akan segera memeriksakan anaknya ke dokter atau bidan supaya segera sembuh.

Seorang ayah bekerja keras demi menghidupi keluarganya. Badannya yang letih dan kepanasan tak membuat seoran ayah menyerah untuk bekerja. Keinginan dan motivasi yang kuat untuk membahagiakan keluarga membuat semangatnya makin membara. Inilah gambaran nyata betapa besarnya kasih saying kedua orang tua kepada anak – anaknya. Kedua orang tua sangat menginginkan anak – anaknya tumbuh sehat, kuat, cerdas, salih / salihah dan menjadi anak yang berbakti.

Kedua orang tua telah berjasa besar dalam kehidupan kita. Keduanya memberikan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih. Setiap hari, kedua orang tua berdoa kepada Allah SWT agar anak – anaknya selalu berada dalam lindungan – Nya. Kasih sayang kedua orang tua kepada anak – anaknya tak ternilai harganya. Seandainya dunia dan seisinya digunakan untuk membalas budi kedua orang tua, tak akan sepadan dengan penggorbanannya. Sudah seharusnya kita menghormati, menyayangi dan mentaati kedua orang tua. Jika ini kita lakukan, kita akan memperoleh keberkahan hidup. Hidup berkah adalah hidup penuh manfaat, mendapat perlindungan dan kasih sayang Allah SWT.

Di samping kedua orang tua, orang yang sangat erjasa dalam hidup kita adalah guru. Guru mendidik dengan penuh perhatian, kesabaran dan ketekunan. Kita dapat membaca, menulis dan berhitung berkat jasa para guru. Guru telah memberikan ilmu pengetahuan dan menanamkan akhlak mulia sehingga kita menjadi insan cerdas dan berbudi pekerti luhur. Tanpa jasa seorang guru, kita ini akan berada dalam kebodohan.

Kedua orang tua dan guru wajib kita hormati, sayangi dan taati. Nasihat dan petnjuknya kita laksanakan sebaik – baiknya. Mereka telah berjasa mendidik kita menjadi manusia berilmu dan berakhlak mulia. Kita bahagiakan mereka dengan cara rajin belajar dan beribadah. Rasa saying kita kepada mereka dapat kita wujudkan dengan mendoakannya setiap selesai salat. Kita doakan mereka setiap hari supaya mendapat rahmat dari Allah SWT allah SWT dan Rasulnya telah mengajarkan kepada kita utuk menghormati dan mentaati kedua orang tua dan guru. Oleh karena itu, mari kita hormati kedua orang tua dan guru agar mendapat keberkahan hidup.

  1. Hormat dan Sayang kepada Kedua Orang Tua dan Guru..

Kehormatan dan kebahagiaan hidup sebuah keluarga akan terwujud jika semua anggota keluarga saling menghormati dan menyayangi. Anak menghormati orang tua dan orang tua menyayangi anaknya. Seorang adik menghormati kakaknya dan kakak menyayangi adik – adiknya. Sikap saling menghormati dan menyayangi seperti ini harus dibiasakan mulai dari keluarga. Pembiasaan dan penanaman akhlak mulia sejak dari dalam keluarga akan membentuk karakter positif seorang anak.

Menghormati dan menyayangi kedua orang tua merupakan kewajiban seorang anak. Sikap menghormati dan menyayangi kedua orang tua dapat dimaksudkan sebagai bentuk balas budi kita kepada mereka. Namun balas budi kita tak akan bisa sepadan dengan pengorbanannya. Sangatlah wajar apabila kita diwajibkan Allah SWT untuk menghormati kedua orang tua. Mengingat jasa – jasa mereka kepada kita sungguh tak ternilai. Kewajiban menghormati kedua orang tua banyak tertuang dalam al – Qur’an, diantaranya Q.S. al – Isra / 17 : 23 berikut ini :

Artinya : “Dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua – duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jananlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (Q.S. al – Isra / 17 : 23).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT mewajibkan kita berbuat baik kepada ibu bapak. Tutur kata kita kepada keduanya haruslah lemah lembut. Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua saja tidak dibolehkan oleh agama, apalagi mengucapkan kata – kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu. Ketika kita sedang sinasihati orang tua, dengarkan baik – baik, jangan memotong pembicaraan. Kita berusaha menampilkan sikap terbaik supaya kedua orang tua merasa dimuliakan. Nasihat – nasihat tersebut kita laksanakan dengan sebaik – baiknya.

Menghormati kedua orang tua akan mendatangkan kberkahan hidup bagi seorang anak. Mengapa demikian ?. karena dengan menghormati kedua orang tua, mereka akan merasa senang dan bangga. Mereka akan berdoa kepada Allah SWT agar anak – anaknya mendapat perlindungan – Nya. Doa orang tua sangat berarti bagi anak – anaknya. Inilah yang akan menjadikan hidup kita bermanfaat dan mendapat perlindungan serta kasih saying Allah SWT.

Anak yang menghormati kedua orang tuanya akan selalu meminta nasihat, petunjuk, dan doa. Inilah cerminan anak salih/ salihah. Anak salih tidak menganggap orang tuanya bodoh dan ketinggalan zaman. Mereka juga tidak merasa malu dan menyesal dengan keadaan orang tua. Meskipun pendidikan seorang anak lebih tinggi dan orang tua, ia tetap tidak meremehkan dan menganggap rendah orang tuanya. Mereka memosisikan orang tua di tempat yang mulia. Setiap hari meminta doa restu kedua orang tua agar cita- citanya tercapai. Ada seseorang bertanya kepada rasulullah Saw, antara bapak dan ibu manakah yang lebih berhak di perlakukan dengan baik? Cermatilah kisah berikut ini!

Ibnu Mas’ud, seorang sahabat rasulullah Saw. Bertanya, “Wahai rasulullah, siapakah yang lebih berhak aku pergauli dengan baik? “beliau menjawab: “ibumu. “kutanyakan lagi, “lalu siapa lagi? “beliau menjawab: ibumu. “aku bertanya lagi, “siapakah lagi? “beliau menjawab: “Ibumu. “aku bertanya lagi, “siapakah lagi? “Beliau baru menjawab: “kemudian, barulah bapakmu, kemudian kerabat yang paling terdekat yang terdekat” .

Anak saleh juga akan menghormati gurunya sebagaimana ia menghormati kedua orang tua. Guru telah berjasa besar mendidik kita menjadi pintar dan berahlak mulia. Ia akan selalu mengikuti pelajaran dengan penuh semangat. Mengerjakan tugas sekolah dengan baik dan tepat waktu. Mendengarkan dan melaksanakan nasihat dan petunjuk dengan sungguh- sungguh. Pantang bagi anak saleh untuk menyakiti hati gurunya. Justru ia akan selalu berusaha membuat gurunya senang dan bangga dengannya. Ia akan selalu minta nasihat dan doa dari setiap guru yang mengajar di kelas. Jika dalam satu hari ia mendapat doa dari empat guru, dalam satu minggu, ia akan mendapat dua puluh delapan kali doa dari guru- guru tersebut. Berarti, dalam satu bulan, ia mendapat seratus dua belas kali doa, dan seribu tiga ratus empat puluh empat kali doa dalam satu tahun. Subhanallah, doa- doa dari bapak dan ibu guru inilah yang turut andil dalam kesuksesan dan keberkahan hidup kita. Sungguh Allah Swt. Mengabulkan semua doa hamba- nya, apalagfi doa itu di panjatkan dengan ikhlas oleh bapak dan ibu guru secara berulang- ulang dan terus menerus. Tentu doa- doa ini sulit kita dapatkan jika kita sering membuat bapak ibu guru kecewa dan sakit hati karena perilaku buruk yang kita lakukan. Oleh karena itu hormatilah bapak dan ibu guru dengan sepenuh hati. Contoh lain akhlak anak saleh, saat berjalan dan berpapasan dengan bapak dan ibu guru, mereka akan menyapa sambil tersenyum dan mencium tangannya. Sikap mulia ini adalah salah satu bentuk sikap menghormati bapak dan ibu guru baik ketika di sekolah maupun di luar sekolah.

  1. Taat kepada Orang Tua dan Guru.

Perhatikan Q.S. Luqman / 31 : 14 berikut ini :

Artinya ; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada – Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada aku kembalimu”. (Q.S. Luqman / 31 : 14).

Seorang anak wajib menaati kedua orang tua. Ketaatan seorang anak kepada kedua orang tua merupakan bentuk “Birrul Walidain”. Birrul walidain adalah berbakti kepada kedua orang tua. Berbakti kepada kedua orang tua termasuk salah satu amalan paling mulia dalam agama. Hal ini pernah dijelaskan oleh rasulullah SAW. Cermatilah isi dari sabda Rasulullah SAW berikut Ini :

Ibnu Mas’ud pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling mulia ?.”. Beliau menjawab : “Salat tepat pada waktunya”. Aku bertanya lagi, “Kemudian apakah lagi wahai Rasulullah ?”. beliau menjawab : “Kemudian, berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi, apalagi wahai Rasulullah ?, Beliau menjawab : “Kemudian, berjuang di jalan Allah”.

Berbakti kepada orang tua akan mendapatkan banyak keberkahan dan keutamaan bagi seorang anak. Keberkahan ini dapat dirasakan baik ketika masih hidup di dunia maupun kelak di akhirat. Beberapa keberkahan dan keutamaan tersebut adalah sebagaimana berikut ini : 

  1. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu kunci masuk surga. Allah SWT akan membuka pintu surge bagi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Bahkan, dia akan mendapat kedudukan dan derajat yang tinggi di surge. Hal ini dikarenakan rida Allah SWT bergantung dari rida orang tua. Murka Allah SWT juga bergantung murka orang tua. Anak yang durhaka kepada orang tuanya tidak akan  masuk surge atau dengan kata lain, ia akan masuk neraka.
  2. Berbakti kepada orang tua merupakan bagian dari berjuang di jalan Allah SWT. Berjuang di jalan Allah memiliki nilai pahala sangat besar di sisi Allah SWT. Seorang anak yang ikhlas berbakti kepada kedua orang tuanya akan mendapat pahala sangat besar dari Allah SWT.
  3. Berbakti dan menghormati orang tua dapat melebur dosa – dosa besar. Dosa – dosa yang pernah dilakukan seorang anak akan mendapat ampunan dari Allah SWT, disebabkan ia berbakti kepada kedua orang tuanya. Ampunan Allah SWT merupakan karunia sangat berharga bagi seorang manusia, sebab ampunan Allah SWT akan menjadikan hidup kita tenang dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bentuk berbakti kepada kedua orang tua beragam, diantaranya dengan menaati perintah mereka. Sikap terbaik seorang anak ketika dimintai tolong orang tuanya adalah segera melaksanakan dengan senang hati dan tak mengharap imbalan.

Disamping berbakti kepada orang tua, kita harus taat kepada guru. Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, wajib pula mematuhi perintah para guru selama tidak bertentangan dengan syariat agama Islam. Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung atau orang tua asuh. Guru telah berjasa besar dalam mendidik dan mengajari kita berbagai ilmu pengetahuan, serta menanamkan akhlak mulia. Ia tak kenal lelah berusaha maksimal guna mencerdaskan anak bangsa.

Menghormati, menyayangi serta memuliakan guru merupakan perilaku terpuji yang harus kita lakukan. Segala perintah dan nasihatnya kita laksanakan sepenuh hati. Setiap saat kita doakan mereka supaya mendapat perlindungan Allah SWT. Jika ini dilakukan oleh seluruh murid, sungguh ini akan membawa keberkahan bagi pendidikan di Indonesia.

Guru telah berjasa melestarikan dan menyampaikan ajaran Islam sehingga kita memiliki akidah yang lurus serta memahami  antara yang hak dan batil. Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk menghormati dan menaati guru. Hal ini disebabkan guru adalah pewaris ilmu dan menjadi salah satu jalan menuju keberkahan ilmu. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang dimanfaatkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari – hari.

Seorang murid dilarang meremehkan dan merendahkan gurunya. Rasulullah SAW telah mengingatkan kita semua agar tidak merendahkan seorang guru. Perhatikan hadits berikut ini :

Dalam sebuah hadits riwayat al – Baihaqi, rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan oleh Allah kepadanya tiga azab (penderitaaan) : 1. Sempit rezekinya, 2. Hilang manfaat ilmunya, 3. Keluar dari dunia ini (wafat) tanpa iman”.

Sabda Rasulullah SAW tersebut menegaskan bahwa kamu dilarang merendahkan, apalagi menghina atau mencela guru, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sikap ini harus dipegang sungguh – sungguh, sebab bisa jadi suatu saat kamu lebih pintar dari guru – guru kamu. Meskipun demikian, kamu harus tetap rendah hati dan menghormatinya karena pada hakikatnya kepandaian kamu saat ini adalah berkat didikan guru – guru kamu dahulu. Merendahkan guru merupakan sikap tercela dan menjadi cerminan bahwa yang bersangkutan tidak memiliki rasa terima kasih kepada guru.

Minggu, 30 Agustus 2020

MATERI MAKANAN MINUMAN HALAL HARAM